Lebongconservation's Blog


Perkakas ‹ Lebongconservation’s Blog — WordPress
Juni 21, 2009, 6:58 am
Filed under: about Lebong Carbon Conservation


Lebong Carbon Conservation Program
Juni 21, 2009, 5:12 am
Filed under: about Lebong Carbon Conservation

CARBON CONSERVATION KABUPATEN LEBONG

Profile Gambaran Umum  Kabupaten Lebong

Kabupaten Lebong merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Bengkulu, Indonesia. Kabupaten Lebong beribukota di Muaraaman. Kabupaten Lebong merupakan kabupaten pemekaran dari Kabupaten Rejang Lebong dan dibentuk berdasarkan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2003 tentang Pembentukan Kabupaten Lebong dan Kabupaten Kepahiang, Kabupaten ini terletak di posisi 105º-108º Bujur Timur dan 02º,65’-03º,60’ Lintang Selatan di sepanjang Bukit Barisan serta terklasifikasi sebagai daerah Bukit Range pada ketinggian 500-1.000 dpl dan secara Adminsitratif terdiri dari 13 Kecamatan dengan Luas wilayah keseluruhan 192.924 Ha dari total luas ini seluas 134.834,55 Ha adalah Kawasan Konservasi dengan peruntukan untuk Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat 111.035,00 Ha, Hutan Lindung 20.777,40 Ha dan Cagar Alam 3.022,15 Ha.

Batas Wilayah Kabupaten Lebong :

sebelah utara                : berbatasan dengan Kab. Sarolangun – Jambi

sebelah timur                : berbatasan dengan Kab. Musi Rawas

sebelah barat                : berbatasan dengan Kab. Bengkuku Utara

sebelah selatan : berbatasan dengan Kab. Rejang Lebong dan Bengkulu Utara.

Luas wilayah Kabupaten Lebong : 1.929,24 Km2 yang terbagi menjadi lima kecamatan. Sampai saat ini perekonomian kabupaten ini masih bersandar pada pertanian.

Produk pertanian yang menjadi unggulan berasal dari tanaman pangan, perikanan, dan perkebunan. Komoditas andalan dari tanaman pangan adalah padi. Sekitar 20.000 tenaga kerja menghabiskan sebagian besar waktu mereka di lahan persawahan. Dari luas panen sedikitnya 8.000 hektar, diperoleh 33.000 ton gabah kering giling. Selain untuk konsumsi lokal, padi juga dipasarkan ke Curup dan Kota Bengkulu. Sebagai produk unggulan, pertanian memberi kontribusi bagi pendapatan asli daerah (PAD) melalui retribusi.

Dari perkebunan, yang menjadi primadona adalah nilam. Sekitar 4.000 pekerja menggarap lahan nilam seluas 575 hektar. Dari luas seluruhnya, terdapat tanaman menghasilkan seluas 171 hektar yang memproduksi 16,84 ton nilam. Dengan menggunakan kayu bakar, nilam mengalami proses penyulingan menjadi minyak nilam. Minyak ini kemudian dipasarkan ke Kota Medan di Sumatera Utara. Perkebunan, terutama kopi dan nilam, memberi kontribusi terhadap PAD. Pemkab Lebong tengah mencari cara baru untuk proses penyulingan minyak nilam. Selama ini masyarakat menyuling secara tradisional dengan bahan bakar kayu.

Di sektor perikanan, komoditi unggulan kabupaten ini adalah ikan mas. Untuk meningkatkan produksi ikan mas, yang merupakan primadona dari perikanan, Pemkab Lebong mengadakan balai benih ikan yang berfungsi sebagai penyedia bibit ikan. Usaha lainnya adalah memelihara jalan untuk memperlancar pengangkutan hasil ikan ke pasar.

Di sektor pertambangan, Selain emas, tanah kabupaten ini mengandung berbagai macam bahan galian golongan C. Hasil galian yang masuk dalam golongan ini, seperti marmer, batu kapur, pasir kuarsa dan kaolin, juga sering disebut sebagai bahan galian industri. Penambangan bahan galian C tidak memerlukan teknologi canggih dan umumnya dilakukan secara tradisional sebagai tambang rakyat

Penduduk

Tahun

2006

Statistik Penduduk
Jumlah Pria 44,680

jiwa

Jumlah Wanita 42,212

jiwa

Jumlah Total 86,892

jiwa

Pertumbuhan Penduduk

%

Kepadatan Penduduk 45.00

per km2

PDRB Kab Lebong

Tahun

2005

2006

Rupiah (juta)

%

Rupiah (juta)

%

Pertanian

318,801

79.15

336,471

79.31

Pertambangan

2,795

0.69

2,949

0.70

Industri Pengolahan

7,289

1.81

7,695

1.81

Listrik dan Air Bersih

1,480

0.37

1,543

0.36

Bangunan

8,083

2.01

8,324

1.96

Perdagangan, Hotel, Restoran

19,954

4.95

20,961

4.94

Angkutan/Komunikasi

5,183

1.29

5,397

1.27

Bank/Keu/Perum

6,640

1.65

6,837

1.61

Jasa

32,559

8.08

34,083

8.03

Total

402,784

424,260

Laju Pertumbuhan

Sumber Data:  PDRB Kabupaten Lebong Tahun 2006
BPS Kabupaten Lebong

Ketersediaan Lahan

No

Sektor/Komoditi

Luas Lahan/Potensi

1 Perkebunan: Kakao Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 184
2 Perkebunan: Karet Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 413
3 Perkebunan: Kelapa Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 202
4 Perkebunan: Kelapa Sawit Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 15
5 Perkebunan: Kopi Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 7,986
6 Perkebunan: Lada Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 637
7 Perkebunan: Nilam Lahan yang Sudah Digunakan (Ha): 454

Sumber Data:  Statistik Perkebunan Indonesia 2006-2008 Departemen Pertanian Direktorat Jenderal Perkebunan Jakarta 2007

Keberadaan Taman Nasional di Kabupaten Lebong

Keberadaan Taman Nasional yang ada di kabupaten lebong adalah Taman Nasional Kerinci Sebelat (TNKS) yang ditetapkan berdasarkan Surat Keputusan Menteri Pertanian Nomor 736/Mentan/X/1982 kemudian diperkuat berdasarkan SK Menteri Kehutanan dan Perkebunan No 901/kpts-II/1999 sebagai kawasan konservasi dan di wilayah lain juga di kukuhkan sebagai kawasan Hutan Lindung Rimbo Pengadang Register 42 dan kawasan lindung Boven Lais yang awal pengukuhan kawasan ini ditetapkan sebagai hutan lindung oleh Pemerintahan Kolonial Belanda sekitar tahun 1927 yang dikenal sebagai hutan batas Boszwezen (BW).

Dari data yang ada total luas Taman Nasional Kerinci Seblat  secara keseluruhan yang meliputi 4 (empat propinsi ) hasil tata batas  ditetapkan seluas 1.368.000 Ha dengan perincian :

  • seluas 353.780 Ha (25,86%) terletak di Propinsi Sumatera Barat;
  • seluas 422.190 Ha (30,86%) terletak di Propinsi Jambi;
  • seluas 310.910 Ha (22,73%) terletak di Propinsi Bengkulu; dan
  • seluas 281.120 Ha (20,55%) terletak di Propinsi Sumatera Selatan.

Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat tersebar di 9 Kabupaten, 43 Kecamatan dan 134 Desa. Untuk kabupaten Lebong yang luasnya 192.924 hektar, hampir 70 % wilayah ini masuk pada  kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dengan luas 117.000 hektar

Dalam sejarah pembentukannya, taman nasional ini merupakan penyatuan dari kawasan-kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu embun dan Gedang Seblat, hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitarnya yang berfungsi hidro orologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya.

Temperatur Udara di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat rata-rat berkisar 07° – 28° C  dengag curah hujan Rata-rata 3.000 mm/tahun  pada ketinggian Tempat 500 – 3.805 m dpl. Kelompok hutan tersebut merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Batanghari, DAS Musi dan DAS wilayah pesisir bagian barat, DAS tersebut sangat vital peranannya terutama untuk memenuhi kebutuhan air bagi hidup dan kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah tersebut.

Mengingat pentingnya peranan kelompok hutan tersebut, maka pada tanggal 4 Oktober 1982, bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, gabungan kawasan tersebut diumumkan sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah sam pai ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem yang khas (rawa gambut, rawa air tawar dan danau)

Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia alborera), bunga Rafflesia (Rafflesia arnoldi) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanium dan A. decussilvae).

Potensi Flora dan Fauna

Taman Nasional Kerinci Seblat umumnya masih memiliki hutan primer dengan tipe vegetasi utama didominir oleh formasi :

  1. Vegetasi dataran rendah (200 – 600 m dpl)
  2. Vegetasi pegunungan/bukit (600 – 1.500 m dpl)
  3. Vegetasi montana (1.500 – 2.500 m dpl)
  4. Vegetasi belukar gleichenia/paku-pakuan (2.500 – 2.800 m dpl)
  5. Vegetasi sub alpine (2.300 – 3.200 m dpl)

Tidak kurang dari 4.000 jenis flora (63 famili) terdapat di kawasan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, Bommacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae, Euphorbiaceae dan Meliaceae. Sedangkan pada ketinggian 500 m – 2000 m dpl. didominasi oleh famili Fagaceae, Erycaceae dan semak-semak sub alpin dari jenis Vaccinium dan Rhododendron

Beberapa jenis vegetasi yang khas di Taman Nasional Kerinci Seblat antara lain : Histiopteris insica (tumbuhan berpembuluh tertinggi) berada di dinding kawah Gunung Kerinci, berbagai jenis Nepenthes sp, Pinus mercusii strain Kerinci, Kayu pacat (Harpullia arborea), Bunga Raflesia (Rafflesia arnoldi), Agathis sp.

Hasil penelitian Biological Science Club (BScC) pada tahun 1993 di daerah buffer zone ditemukan 115 jenis vegetasi ethnobotanical yang banyak digunakan masyarakat setempat untuk berbagai keperluan seperti untuk obat-obatan, kosmetik, makanan, anti nyamuk dan keperluan rumah tangga.

Fauna yang tedapat dalam Taman Nasional Kerinci Seblat tercatat 42 jenis mammalia (19 famili), diantaranya : Badak Sumatera (Dicerorhinus sumatrensis), Gajah Sumatera (Elephas maximus sumatrensis), Macan dahan (Neopholis nebulosa), Harimau Loreng Sumatera (Panthera tigris sumatrensis), Kucing emas (Felis termminnckii), Tapir (Tapirus indica), Kambing Hutan (Capricornis sumatrensis); 10 jenis reptilia; 6 jenis amphibia, antara lain: Katak Bertanduk (Mesophyrs nasuta), 6 jenis primata yaitu : Siamang (Sympalagus syndactylus) Ungko (Hylobates agilis), Wau-wau Hitam (Hylobates lar), Simpai (Presbytis melalobates), Beruk (Macaca nemestrina) dan Kera Ekor Panjang (Macaca fascicularis).

Di samping itu sudah tercatat 306 jenis burung (49 famili), diantaranya 8 jenis burung endemik seperti : Tiung Sumatera (Cochoa becari), Puyuh Gonggong (Arborophila rubirostris), Celepuk (Otus stresemanni), Burung Abang Pipi (Laphora inornata).

Topografi dan Iklim

Pada umumnya topografi Taman Nasional Kerinci Seblat bergelombang, berlereng curam dan tajam dengan ketinggian antara 200 sampai dengan 3.805 meter dpl. Topografi yang relatif datar dengan ketinggian 800 meter dpl terdapat di daerah enclave Kabupaten Kerinci.

Secara umum curah hujan di kawasan ini cukup tinggi dan merata. Rata-rata curah hujan tahunan berkisar antara 3.000 mm. Musim hujan berlangsung dari bulan September – Pebruari dengan puncak musim hujan pada bulan Desember. Sedangkan musim kemarau berlangsung dari bulan april – Agustus. Suhu udara rata-rata bervariasi yaitu 28° C di dataran rendah, 20° C di Lembah Kerinci dan 9° C di puncak Gunung Kerinci. Kelembaban 80-100%.

Untuk mencapai lokasi Taman Nasional Kerinci Seblat  bisa dilakukan melawati jalur Bengkulu-Argamakmur-Lebong, atau melalui jalur Bengkulu-Kepahiang-Curup-Lebong, yang rata-rata bisa ditempulh 4~6 jam perjalanan darat.

Gambaran Umum Carbon Conservation

Carbon Conservation merupakan salah satu program yang bisa mendatangkan devisa, khususnya untuk percepatan pembangunan, yang selama ini dibiayai dari Pendapatan Asli Daerah (PAD) yang bersumber pada pajak, retribusi dan bantuan.

Kabupaten Lebong ditinjau dari sisi konstelasi regional, merupakan daerah konservasi, bahkan secara internasional Kabupaten Lebong memiliki nilai jual tinggi, dari potensi kawasan konservasi tersebut.

Konsep pada Protocol Kyoto, memunculkan kesepakatan bagi negara-negara maju untuk menurunkan emisi gas buang atau negara yang tidak memiliki hutan, untuk memberikan kompesasi kepada wilayah yang memiliki kawasan konservasi, salah satu bentuk kompensasi yang terjadi saat ini adalah metode dari konsep Carbon Credit.

Selain bertujuan untuk menekan dampak terhadap pemanasan global, pemberdayaan masyarakat yang peduli terhadap lingkungan, termasuk pembinaan aparatur perangkat daerah Kabupaten Lebong.

Mekanisme Carbon Credit antara pihak penghasil dan yang memberikan nilai kompensasi, secara umum sebagai berikut:

  1. Pihak penghasil Carbon, melalui program kerja Carbon Conservation, menjelaskan bahwa dengan keberadaan kawasan konservasi, yang bisa menghasilkan devisa, tidak akan menebang pohon, serta melaksanaan pembinaan, pelatihan, kegiatan melaui program perencanaan yang sudah disusun, sehingga target Memanen Hutan Tanpa Menebang Pohon bisa terealisasi.
  2. Pihak yang memberikan kompesasi, selain memberikan kompensasi, memberikan bantuan non teknis, melalui aturan dan mekanisme yang disepakati.


Chapter I  Alasan Program Carbon Conservation Kabupaten Lebong

Secara nyata kekayaan alam sector kehutanan di Kabupaten Lebong merupakan potensi yang cukup besar, dan memilik daya jual cukup tinggi, seperti halnya Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS) merupakan asset sangat berharga, dengan luasan Taman Nasional Kerinci 134.834,55 Ha adalah Kawasan Konservasi dengan peruntukan untuk Kawasan Taman Nasional Kerinci Sebelat 111.035,00 Ha, Hutan Lindung 20.777,40 Ha dan Cagar Alam 3.022,15 Ha.

Akar permasalahan pada satu model kabupaten konservasi seperti di kabupaten Lebong ini adalah pengelolaan secara optimal, alasan tersebut wajar, karena keterbatasan biaya dalam pelaksanaan di lapangan, Kabupaten Lebong yang merupakan kabupaten baru, konsentrasi pembangunan saat ini terkonsentrasi pada dua sisi focus, yaitu perencanaan pembangunan dan pelaksanaan fisik pembangunan.

Sedangkan perencanaan untuk penetapan kawasan konservasi saat ini belum optimal, dan bersinergi dengan masyarakat, dan dampak yang paling buruk dari hal tersebut adalah munculnya beberapa pelanggaran terhadap kelestarian alam di kabupaten Lebong.

Berangkat dari akar permasalahan tersebut dapat disimpulkan pemberdayaan kawasan konservasi dimulai dari pemberdayaan masyarakat dan aparatur setempat, karena pengelolaan kawasan konservasi diperlukan SDM yang terampil.

Maka konsep carbon credit merupakan salah satu upaya untuk mendukung program kelestarian hutan di kabupaten Lebong, dengan konsep mendatangkan devisa  tanpa menebang pohon satu batangpun.

I. 1 Carbon Credit.

Sekarang ini, dunia memang tengah memasuki era perdagangan komoditas baru yang disebut kredit karbon. Negara-negara maju yang diwajibkan Protocol Kyoto menurunkan emisi gas karbon mereka—penyebab utama pemanasan global—dapat membeli poin atau kredit penurunan emisi karbon dari proyek ramah lingkungan di negara berkembang melalui clean development mechanism (CDM).

Dana yang disiapkan negara-negara maju untuk membeli kredit karbon telah mencapai $1.3 miliar dan akan terus bertambah. Sementara itu, secara keseluruhan, Indonesia berpotensi menjual 125-300 juta ton kredit karbon yang dapat menghasilkan pemasukan hingga $1,65 miliar (Rp 16 triliun).

CDM dirancang untuk memudahkan negara-negara maju mencapai target penurunan emisi gas kabon mereka sebesar rata-rata 5,2% dari tingkat emisi tahun 1990 pada 2012.

Salah satu negara pembeli kredit karbon yang telah menjalin kerjasama dengan Indonesia adalah Denmark. Juli silam, kedutaan besar negara itu membuka Fasilitas Pembangunan Proyek CDM. Pemerintah Denmark menyediakan $160 juta untuk membeli CER dari berbagai proyek CDM di seluruh dunia. Untuk Indonesia, selain menjadi pembeli, pemerintah negara itu bersedia ikut menanggung biaya konsultan dan penyusunan proposal.
Negara lain yang telah menandatangi kerjasama bilateral adalah Belanda. Negara Kincir Angin akan membeli kredit karbon dari Indonesia sejumlah 2 juta ton dengan harga 3-4 euro per ton (total, sekitar Rp100 miliar).

Sedangkan untuk wilyah konservasi di Propinsi Aceh, Papua, Papua Barat, Jambi baru-baru ini dari Negara Australia melalui Carbon Conservation dan Carbon Pool dan Inggris melalui Merril Lynch

I.2  Target Carbon Conservation

Diharapkan dari target dan sasaran untuk program carbon conservation di kabupaten lebong memiliki target jangka panjang dan memiliki kontinyunitas yang berkelanjutan, terutama dalam bentuk pemberdayaan masyarakat sekitar kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat.

Bentuk-bentuk pemberdayaan masyarakat tersebut diaplikasikan dengan model pelatihan yang dibarengi dengan pengetahuan pengelolaan hutan dan menjaga kelestarian hutan secara seutuhnya, perlu diketahui permasalahan di kawasan konservasi Taman Nasional Kerinci Seblat ada beberapa pokok permasalahan yang cukup membahayakan bagi kelestarian hutan seperti

  1. Kegiatan pembukaan lahan secara liar
  2. Pembakaran hutan
  3. Pencurian kayu (illegal logging)
  4. Perburuan satwa yang dilindungi
  5. Penambangan emas di kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat

Salah satu  yang kemungkinan paling sulit untuk penanganan untuk menjaga kelestarian di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat adalah  para penambang tradisional yang sudah turun temurun, dan pekerjaan tersebut sudah merupakan satu pokok mata pencaharian masyarakat setempat, ada anggapan dari penduduk sekitar kawasan tersebut bahwa pertanian merupakan pekerjaan sambilan bukan pekerjaan utama.

Seperti di daerah hulu sungai Ketenong baru ramai dikerjakan oleh para penambang semenjak tahun 1981 hingga sekarang. Setelah dilakukan pengecekan memakai, ternyata daerah yang dikerjakan oleh penambang ilegal tersebut telah masuk kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS).

Dari target  yang diharapkan melalui  program carbon conservation yang diwujudkan carbon credit/carbon trade  berupa  hasil dari penjualan carbon tersebut akan dijadikan modal untuk;

  1. Pemberdayaan masyarakat  untuk bisa menjaga kelestarian pada kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat
  2. Pembangunan masyarakat secara utuh dan berkesinambungan melalui program-program pembangunan yang akan dicanangkan.
  3. Pengenalan dan aplikasi teknologi tepat guna, seperti model pengolahan biocosmos, sistem penerangan atau electric sehingga masyarakat disana bisa mengenal lebih jauh dengan konsep-konsep dan implementasi teknologi tepat guna.

Diharapkan seluruh target tersebut bisa berjalan dengan baik maka kabupaten Lebong dapat berperan untuk mendinginkan dunia dari pemanasan global, dan ini merupakan target utama dari rencana carbon conservation.


Chapter II Tujuan  Rencana Program Carbon Conservation

Tujuan dari  Rencana Program Carbon Conservation   Kabupaten Lebong, adalah mendapatkan Devisa, untuk digunakan bagi pembangunan di Kabupaten Lebong, dengan cara menjual karbon dioksida yang dihasilkan pada kawasan Carbon Conservation.

Nilai positif yang  dapat diambil dari program ini, pemerintah kabupaten kelestarian hutan, dapat terjaga, tetapi pemerintah mendapatkan devisa secara pasti, karena tanpa menebang pohon di hutan masyarakat di kabupaten Lebong akan memanen hutan tersebut dalam bentuk lain.

II.1  Perencanaan Program

Rencana yang akan dijalankan pada Carbon Conservation Kabupaten Lebong  pada tahap awal adalah pengambilan data awal mengenai keberadaan kabupaten Lebong yang ditinjau dari sebagai kabupaten Konservasi.

Setelah melakukan kajian secara general terdapat dua sisi yang cukup sulit yang dihadapi dalam teknis di lapangan, kondisi tambang emas tradisional di kabupaten Lebong, rata-rata berada di wilayah kawasan konservasi, dan penduduk yang berada di lokasi kawasan konservasi.

Untuk menghadapi hal tersebut pemerintah kabupaten Lebong melalui perencanaan program Carbon Conservation, bertujuan untuk  pemberdayaan masyarakat meliputi pembangunan fisik, yang berdampak pada kelestarian lingkungan, meliputi

  • Perencanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Linkungan Penambang Emas:  dengan program sosialisasi  untuk menghentikan kegiatan menambang emas secara liar, pemerintah kabupaten Lebong, memperkuat dengan aturan ,melaui Peraturan Daerah (PERDA),  pemberdayaan tersebut harus mampu mengantikan hasil upah dari kerja para penambang, dengan model jenis pekerjaan berbeda.
  • Perencanaan Program Pemberdayaan untuk Penduduk di sekitar kawasan konservasi, terdapat masyarakat  yang mendiami di kawasan areal konservasi akan diberdayakan sebagai penjaga hutan yang menjaga kelestarian kawasan konservasi tersebut, pemberdayaan tersebut, disisipkan  juga pengenalan teknologi sederhadan, tepat guna, seperti membuat system elektrisasi secara mandiri, model pengelolaan hutan lestari..
  • Perencanaan Program Sosialisasi. sosialisasi dilakukan kepada seluruh masayarakat yang ada di kabupaten Lebong, mengenai pentingnya carbon conservation, melalui beberapa model sosialisasi, secara langsung, pentingnya sosailisasi tersebut, harus dapat menghilangkan kebiasaan buruk seperti, berburu, menebang pohon secara illegal, pembakaran hutan.


Chapter 3  Lokasi Perencanaan Kawasan Carbon Conservation

Kabupaten Lebong memiliki 13 kecamatan, yang memiliki pusat pemerintahan di Tubei, beberapa kecamatan tersebut memiliki wilayah hutan lindung, atau kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), yaitu kecamatan :

  1. Kecamatan Rimbo Pengadang
  2. Kecamatan Topos
  3. Kecamatan Lebong Selatan
  4. Kecamatan Bungin Kuning
  5. Kecamatan Lebong Sakti
  6. Kecamatan Lebong Tengah
  7. Kecamatan Lebong Utara
  8. Kecamatan Amen
  9. Kecamatan Uram Jaya
  10. Kecamatan Pinang Belapis
  11. Kecamatan Lebong Atas
  12. Kecamatan Pelabai
  13. Kecamatan Padang Bano

Penentuan kawasan Carbon Conservation ini pada kecamatan-kecamatan yang memiliki wilayah berdasarkan pada  kawasan hutan lindung dan  Taman Nasional Kerinci Seblat (TNKS), karena wilayah tersebut yang bersentuhan langsung dengan program Carbon Conservation, dengan luas yang akan di konservasikan  seluas 60,2 % (119,612.9 ha)

III.1 Teknis Pelaksanaan Perencanaan

Teknis pelaksanaan dalam perencanaan terdiri dari beberapa team kelompok, dengan tugas inti mewadahi aspirasi masyarakat yang terkena dampak langsung atau tidak langsung  terhadap penetapan rencana kawasan Carbon  Conservation.

III.2. Mekanisme Perencanaan

Mekanisme perencanaan pada perencanaan dimulai pada penentuan kawasan untuk Carbon Conservation, penentuann kawasan tersebut, minimal mengambil kawasan yang sudah ditetapkan sebagai kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, kawasan tersebut secara hukum telah memiliki ketetapan dari pemerintah.

Untuk proses inventarisasi data disajikan data yang berhubungan dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, yang valid dan dapat mewakili keberadaan kawasan tersebut, tahapan-tahapan berikutnya adalah penyusunan kompilasi data, dan analisa faktual lapangan di Kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat. untuk lebih detail bisa dilihat pada flow chart mekanisme proses perencanaan.  Dalam menjalankan mekanisme perencanaan tersebut, dibahas mengenai keterkaitan dalam flow chat tersebut yang bertujuan untuk job description pihak-pihak internal yang terlibat pada program Carbon Conservation, berupa Netwoking Flow Chart.

Pada  Netwoking Flow Chart., secara detail menjelaskan masing-masing dalam tanggung jawab dan batasan kapasitas dalam mekanisme perencanaan Carbon Conservation di kabupaten Lebong , yang terdiri dari :

  • Team Pelaksana
  • Team Inti
  • Perwakilan Masyarakat
  • Steak Holder Pemerintah Kabupaten Lebong

Note : seluruh tulisan ini dapat dilihat di web : http://www.lebongconservation.org/



Hello world!
Juni 21, 2009, 2:41 am
Filed under: about Lebong Carbon Conservation

Welcome to WordPress.com. This is your first post. Edit or delete it and start blogging!