Lebongconservation's Blog


INFORMASI UMUM KEHUTANAN FLORA DAN FAUNA KABUPATEN LEBONG

PENDAHULUAN

Tercatat pada tahun 2006 Kerusakan kawasan hutan di Kabupaten Lebong, Bengkulu sampai saat ini telah mencapai 40 persen atau sekitar 54.000 haktare, Kerusakan hutan terjadi pada kawasan hutan cagar alam, hutan lindnug dan Taman Nasional Kerinci Seblat(TNKS), Kerusakan kawasan hutan itu disebabkan banyaknya kegiatan “illegal logging” dan perambahan yang dilakukan masyarakat yang bermukim di sekitar hutan lindung tersebut, Warga membuka hutan lindung karena tidak memiliki lahan garapan untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari. Mayoritas dari mereka merupakan masyarakat miskin.

Pemberian status Lebong sebagai Kebupaten Konservasi diharapkan mampu mengatasi perambahan kawasan hutan lindung dan hutan konservasi di daerah itu, karena akan terjadi “kalaborasi” antara masyarakat dengan pemerintah untuk sama menjaga kelestariannya, maka program Lebon Carbon Conservation yang sedang digalakan merupakan bentuk dan upaya untuk mengatasi permasalahan kehutana di kabupaten lebong, dengan melaksanakan kegiatan konservasi peningkangkat sektor ekonomi akan ditingkatkan.

Pengelolaan hutan lestari yang sering kali diberitakan dan dipublikasikan merupakan salah satu bentuk kepedulian terhadap lingkungan dengan menjaga keasrian dan keberdayaan hutan secara utuh. Disadari bersama bahwa pilihan skim pengelolaan hutan sangat menentukan lestari tidaknya hutan yang dikelola.

Orientasi pengelolaan hutan yang hanya terfokus pada hasil kayu telah mengakibatkan kerugian yang luas biasa baik secara ekonomi maupun ekologi. Orientasi ekonomi jangka pendek ini pulalah yang mengakibatkan rusaknya ekosistem hutan. Kerusakan hutan tersebut mengakitkan bencana longsor dan banjir yang menelan korban jiwa dan material yang tidak sedikit.

Salah satu dampak dari pengelolaan hutan dengan konsep-konsep yang sudah dilaksanakan seperti penempatan kawasan HTI, atau kawasan pengelolaan hutan banyak sekali

penyelewengan dalam pelaksanaan di lapangan, selain permasalahan illegal logging yang sudah tidak asing lagi di dengar oleh telinga kita.  Berbagai dampak dari kesalahan management pengelolaan hutan, dampak negatif sudah dirasakan oleh kita, sedikitnya banyak daerah-daerah yang terkena bencana alam seperti longsor, banjir, bahkan masuknya binatang buas seperti harimau, gajah, ke perkampungan merupakan efek kesalahan dari pengelolaan kawasan hutan, yaitu ekosistem dan habitasi hewan tersebut terganggu.

Berbagai permasalah kehutanan di kabupaten Lebong merupakan satu pekerjaan yang tidak mudah untuk menjamin kelestarian terhadap pengelolaan hutan, label kabupaten Lebong sebagai kabupaten konservasi akan sirna begitu saja apabila kepedulian terhadap hutan tidak  dijaga dari sekarang.

Kawasan Hutan Kabupaten Lebong

Eksistensi untuk menjaga kelestarian hutan di kabupaten Lebong merrupakan tugas pokok seluruh elemen di kalangan birokrasi dan seluruh lapisan masyarakat, kategori hutan dan jenis hutan di Kabupaten Lebong terdiri dari kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, beberapa kawasan Hutan Lindung , dan cagar alam.

Dari data yang ada total luas Taman Nasional Kerinci Seblat  secara keseluruhan yang meliputi 4 (empat propinsi ) hasil tata batas  ditetapkan seluas 1.368.000 Ha dengan perincian:

  • seluas 353.780 Ha (25,86%) terletak di Propinsi Sumatera Barat;
  • seluas 422.190 Ha (30,86%) terletak di Propinsi Jambi;
  • seluas 310.910 Ha (22,73%) terletak di Propinsi Bengkulu; dan
  • seluas 281.120 Ha (20,55%) terletak di Propinsi Sumatera Selatan.

Wilayah Taman Nasional Kerinci Seblat tersebar di 9 Kabupaten, 43 Kecamatan dan 134 Desa. Untuk kabupaten Lebong yang luasnya 192.424 hektar, hampir 70 % wilayah ini masuk pada  kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat dengan luas 117.000 hektar

Dalam sejarah pembentukannya, taman nasional ini merupakan penyatuan dari kawasan-kawasan Cagar Alam Inderapura dan Bukit Tapan, Suaka Margasatwa Rawasa Huku Lakitan-Bukit Kayu embun dan Gedang Seblat, hutan lindung dan hutan produksi terbatas di sekitarnya yang berfungsi hidro orologis yang sangat vital bagi wilayah sekitarnya.

Temperatur Udara di sekitar Taman Nasional Kerinci Seblat rata-rat berkisar 07° – 28° C  denag curah hujan Rata-rata 3.000 mm/tahun  pada ketinggian Tempat 500 – 3.805 m dpl. Kelompok hutan tersebut merupakan Daerah Aliran Sungai (DAS) utama, yaitu DAS Batanghari, DAS Musi dan DAS wilayah pesisir bagian barat, DAS tersebut sangat vital peranannya terutama untuk memenuhi kebutuhan air bagi hidup dan kehidupan jutaan orang yang tinggal di daerah tersebut.

Mengingat pentingnya peranan kelompok hutan tersebut, maka pada tanggal 4 Oktober 1982, bertepatan dengan Kongres Taman Nasional Sedunia di Bali, gabungan kawasan tersebut diumumkan sebagai Taman Nasional Kerinci Seblat. Taman Nasional Kerinci Seblat merupakan perwakilan tipe ekosistem hutan hujan dataran rendah sam pai ekosistem sub alpin serta beberapa ekosistem yang khas (rawa gambut, rawa air tawar dan danau)

Hutan Taman Nasional Kerinci Seblat memiliki 4000 jenis tumbuhan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, dengan flora yang langka dan endemik yaitu pinus kerinci (Pinus merkusii strain Kerinci), kayu pacat (Harpulia alborera), bunga Rafflesia (Rafflesia arnoldi) dan bunga bangkai (Amorphophallus titanium dan A. decussilvae).


Peta Kawasan Hutan  Kabupaten Lebong

peta_lcc_plan

Potensi Flora dan Fauna

Taman Nasional Kerinci Seblat umumnya masih memiliki hutan primer dengan tipe vegetasi utama didominir oleh formasi :

  1. Vegetasi dataran rendah (200 – 600 m dpl)
  2. Vegetasi pegunungan/bukit (600 – 1.500 m dpl)
  3. Vegetasi montana (1.500 – 2.500 m dpl)
  4. Vegetasi belukar gleichenia/paku-pakuan (2.500 – 2.800 m dpl)
  5. Vegetasi sub alpine (2.300 – 3.200 m dpl)

Tidak kurang dari 4.000 jenis flora (63 famili) terdapat di kawasan yang didominasi oleh famili Dipterocarpaceae, Leguminosae, Lauraceae, Myrtaceae, Bommacaceae, Moraceae, Anacardiaceae, Myristicaceae, Euphorbiaceae dan Meliaceae. Sedangkan pada ketinggian 500 m – 2000 m dpl. didominasi oleh famili Fagaceae, Erycaceae dan semak-semak sub alpin dari jenis Vaccinium dan Rhododendron

Beberapa jenis vegetasi yang khas di Taman Nasional Kerinci Seblat antara lain : Histiopteris insica (tumbuhan berpembuluh tertinggi) berada di dinding kawah Gunung Kerinci, berbagai jenis Nepenthes sp, Pinus mercusii strain Kerinci, Kayu pacat (Harpullia arborea), Bunga Raflesia (Rafflesia arnoldi), Agathis sp.

Hasil penelitian Biological Science Club (BScC) pada tahun 1993 di daerah buffer zone ditemukan 115 jenis vegetasi ethnobotanical yang banyak digunakan masyarakat setempat untuk berbagai keperluan seperti untuk obat-obatan, kosmetik, makanan, anti nyamuk dan keperluan rumah tangga.

Adanya izin Pemanfaatan Kayu di Tanah Milik (IPK/IPKTM) yang dikeluarkan Pemerintah Daerah Lebong dengan alasan pemenuhan kebutuhan kayu untuk pembangunan di lingkungan PEMDA (kantor) dan kebutuhan masyarakat, secara langsung, akan mengancam kelestarian hutan TNKS mengingat kabupaten ini tidak memiliki kawasan hutan selain kawasan konservasi. Sebagaimana diketahui, kerusakan TNKS akibat tekanan kebutuhan Kayu dan lahan dalam beberapa tahun terakhir mencapai 106.846,58 Ha atau 77,95 %  dari total kawasan TNKS di wilayah Kabupaten Lebong dan Rejang lebong yang mencapai 137.063,00 Ha. Dapat dipastikan, dengan meningkatnya kebutuhan kayu disertai adanya legalitas pengeluaran kayu ini, akan menjadi potensi besar terjadinya eksploitasi di kawasan TNKS.

Teridentifikasi beberapa kelemahan dalam pengelolaan, yang selanjutnya menimbulkan permasalahan-permasalahan dan kerusakan di dalam kawasan Taman Nasional, seperti perambahan hutan, penebangan liar, penyerobotan hutan, perburuan liar, dan penambangan emas. Kelemahan-kelemahan tersebut meliputi:

  1. Bentuk (form) bentang alam kawasan TNKS yang memanjang (narrow elongated shape), keadaan kawasan dengan garis dan daerah batas yang panjang dan luas membuka kemungkinan dan kesempatan yang luas bagi terjadinya tekanan dan gangguan dari luar kawasan ke pusat-pusat hutan yang merupakan zona inti.
  2. Terjadi gangguan dan tekanan dari masyarakat sekitar kawasan yang didorong oleh kondisi sosial, ekonomi, dan budaya mereka, terlebih pada kondisi krisis saat ini.
  3. Adanya aktivitas pertambangan di dalam kawasan TNKS.
  4. Kerusakan hutan lindung dan hutan produksi yang merupakan daerah penyangga perluasan habitat dan sosial dari Taman Nasional.
  5. Masih lemahnya koordinasi dengan pihak dan instansi terkait, terutama di tingkat daerah yang mendorong terjadinya benturan kebijaksanaan.
  6. Pemekaran kabupaten, terutama kabupaten yang memiliki sumberdaya alam terbatas menjadi ancaman dan potensi dilakukannya eksploitasi TNKS.

Flora yang Dilindungi di Kabupater Lebong

No.

Nama Latin

Nama Lokal

1.

Shorea sp Meranti

2.

Amorphopalus sp Bunga Bangkai

3.

Raflesia arnoldi Bunga Raflesia

4.

Aquilaria malakensis Kayu Gaharu

5.

Nengah gajah Palm Sumatera

6.

Dedrobium Angrek-anggrekan

7.

Nephentes spp Kantong semar

8.

Phalaenopsis sumaterana Anggrek bulan sumatera

Sumber : Dinas Kehutanan dan Perkebunan Kabupaten Lebong, 2007

Sedangkan hasil inventarisasi dari Dinas Kehutanan dan perkebunan Kabupaten Lebong tidak kurang 25 jenis fauna yang dilindungi yang hidup di kawasan hutan kabupaten Lebong, tidak jarang, jenis-jenis fauna tersebut diburu secara liar, hanya sekedar mengambil keutungan sesaat.

seperti kasus perburuan Siamang merupakan sejenis hewan yang tergolong dalam keluarga beruk. Nama latinnya Hylobates syndactalus. Hewan ini banyak ditemukan di hutan Kabupaten Lebong seperti di Hutan Taman Nasional Kerinci Sebelat dan hutan lindung lain di Kabupaten Lebong banyak sekali diburu dan diperjual belikan dan semakin hari populasinya binatang tersebut semakin menurun, bukti binatang tersebut diburu adalah sering kita jumpai siamang di pelihara penduduk.

Perburuan liar dan penangkapan satwa  dan perburuan liar di dalam kawasan hutan di Kabupaten Lebong secara statistik ini cukup tinggi terutama jenis Avifauna (burung) baik oleh masyarakat sekitar TN maupun dari luar, jenis burung ini banyak diperdagangkan ke luar oleh para pelaku dan sebagian lagi ada yang diperdagangkan ke luar propinsi oleh para agen penadah satwa.

Tidak hanya binatang tersebut diburu, masih banyak jenis binatang lainnya yang diburu oleh para pemburu liar, selain ancaman dari pemburu liar pembukaan lahan secara sporadis oleh masyarakat setempat untuk dimanfaatkan berladang tanaman jenis nilam dengan cara dibakar, maka tidak jarang sering terjadi kebakaran hutan di wilayah kabupaten Lebong.

Permasalahan utama dalam perlindungan terhadap kelestarian fauna ini adalah kurangnya pengawasan aparat yang ada di wilayah kabupaten Lebong, belum indikasi oknum aparat yang terlibat, dari kasus pencurian kayu yang dapat menganggu populasi fauna sampai ke perburuan liar, namun upaya dari Pemerintah Kabupaten Lebong yang di motori langsung oleh Bupati Lebong Drs. H Dalhadi Umar, Bsc kasus-kasus perburuan liar dapat ditekan, dan ini membuktikan kinerja pemerintah kabupaten Lebong cukup baik, dibentuknya team khusus untuk penanggulangan illegal logging dengan koordinator Rian Antoni berfungsi ganda dalam menangani kasus perburuan liar di wilayah Kabupaten Lebong, berikut tabel jenis fauna yang dilindungi di kawasan hutan Kabupaten Lebong

Fauna yang Dilindungi di Kabupaten Lebong

No.

Nama Latin

Nama Lokal

1.

Babyrousa babyrussa Babi Rusa

2.

Felis bengalensis Kucing Hutan

3.

Felis mormorota Kucing kuwuk

4.

Neofelis diadra Harimau dahan

5.

Nycticebus coucang malu-malu

6.

Phantera tigris Sumatrae Harimau Sumatera

7.

Cervus spp Rusa

8.

Helarctos malayanus Beruang

9.

Tragulas javanicus Kancil

10.

Hylobates syndactylus Siamang

11.

Gracula religosa Beo biasa

12.

Taphirus indiscus Tapir

13.

Helarctos malayanus Beruang Madu

14.

Presbitis Melalophos Simpai

15.

Hylobatidae Kera tak berbuntut

16.

Hystrix brachyura Landak

17.

Manis javanica Trenggiling

18.

Mutiacus muntjak Kijang, muncak

19.

Mydaus javanensis Sigung

20.

Accipitridae Burung alap-alap

21.

Bucerotidae Burung Rangkong

22.

Pandionidae Burung Elang

23.

Insecta Berbagai jenis serangga

24.

Elephas indicus Gajah

25.

Rhinocerus Badak Sumatera

26.

Rhinocerus bucerus Burung Rangkong B

Kawasan Hutan Lindung dan Kawasan Cagar Alam Kabupaten Lebong.

Kabupaten Lebong merupakan salah satu kabupaten di provinsi Bengkulu, Indonesia. Kabupaten Lebong beribukota di Muaraaman. Kabupaten Lebong dibentuk dari hasil pemekaran Kabupaten Rejang Lebong berdasarkan UU No.39 Tahun 2003. Kabupaten ini terletak di posisi 105º-108º Bujur Timur dan 02º,65’-03º,60’ Lintang Selatan di sepanjang Bukit Barisan serta terklasifikasi sebagai daerah Bukit Range pada ketinggian 500-1.000 dpl dan secara Adminsitratif terdiri dari 77 Desa dan Kelurahan dan 13  Kecamatan dengan Luas wilayah keseluruhan 192.424 Ha dari total luas ini seluas 134.834,55 Ha adalah Kawasan Konservasi Kawasan Hutan Lindung Rimbo Pengadang Register 42 dan kawasan lindung Boven Lais yang awal pengukuhan kawasan ini ditetapkan sebagai hutan lindung oleh Pemerintahan Kolonial Belanda sekitar tahun 1927 yang dikenal sebagai hutan batas Boszwezen (BW), selain itu terdapat kawasan hutan lindung Bukit Daun yang berbatasan langsung dengan kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat, luas kawasan hutan lindung secara keseluruhan adalah 20.777, 40  HA, selain itu terdapat juga Hutan Lindung Bukit Gedang, Hutan Lindung  Hulu  Lais

Untuk jenis kawasan cagar alam di wilayah kabupaten Lebong terdiri dari beberapa titik lokasi seperti kawasan cagar alam Danau  Tes, pada lokasi ini terdapat pusat Pembangkit Listrik Tenaga Air ( PLTA Tes) yang suplai kebutuhan listrik untuk propinsi Bengkulu, luas total cagar alam di wilayah kabupaten Lebong ini adalah 3.022, 15 HA, berikut dibawah ini kawasan hutan Lindung dan Cagar Alam yang terdapat di Kabupaten Lebong:

  1. Hutan Lindung Bukit Daun
  2. Hutan Lindung Bukit Gedang
  3. Hutan Lindung  Hulu  Lais
  4. Cagar Alam Danau Tes
  5. Cagar Alam Air Ketebat.
  6. Cagar Alam Air Santan  Tebing Atas.

Kawasan Hutan dan Peruntukan Lainnya.

Serara hirarki pusat kabupaten Lebong merupakan kabupaten Pemekaran, penetapan kabupaten konservasi dari 7 Kabupaten Konservasi di Indonesia  berdasarkan pada kondisi geografis kabupaten Lebong yang arealnya di dominasi oleh kawasan Hutan, namun dalam perjalalanan berdirinya kabupaten Lebong ini tidak terlepas dari berbagai permasalahan, hal ini disebabkan budaya dan kebiasaan masyarakat setempat.

Inventarisasi mengenai kawasan hutan dan peruntukan lainnya telah dilakukan oleh Pemerintah kabupaten Lebong dengan mendata fungsi Wilayah hutan dan peruntukan lainnya, dari beberapa catatan yang dilakukan oleh Dinas Perhutanan dan Perkebunan dan BIPHUT BKL tahun 2004 fungsi wilayah kawasan hutan adalah sebagai berikut ;

Tabel Kawasan Fungsi Hutan dan Peruntukan Lainnya

No

Fungsi Wilayah

Luas

1

Taman Nasional Kerinci Seblat

111.305 HA

2

Cagar Alam

3.022,15 HA

3

Hutan Lindung

20.777,40 HA

4

Areal  kawasan Hutan Lainnya

58.089,45 HA

Total Fungsi Wilayah

192.924 HA

Selain fungsi kawasan hutan dan peruntukan lainnya  terdapat  yang terlantar dan kritis pada kawasan Hutan Lindung, data tersebut diambil pada saat kabupaten Lebong masih terbagi 5 kecamatan, data lahan yang terlantar dan kritis tersebut adalah sebagai berikut :

Tabel Lahan Kritis-Terlantar dan Terlantar

No

Kecamatan

Luas ( HA)

Lahan Kritis-Terlantar (HA)

Jumlah Desa-kelurahan

Dalam HL

Luar HL

1

Rimbo Pengadang

45.952

3.200

8.500

9

2

Lebong Selatan

29.856

1.800

3.000

16

3

Lebong Tengah

17.840

1.800

2.000

12

4

Lebong Utara

90.580

7.500

28

5

Lebong Atas

8.696

1.200

2.200

12

Jumlah

192.924

8.000

23.800

77


Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: