Lebongconservation's Blog


Carbon Trade Untuk Kesejahteraan Masyarakat dan Pembangunan Daerah

Pendahuluan

Satu temuan  ilmiah yang disampaikan pada konferensi di  Stockholm  pada 1972 telah menyebutkan bahwa terjadi kenaikan  konsentrasi gas rumah kaca  (GRK) di atmosfer yang akan memengaruhi  temperatur bumi dalam dekade 50-100  tahun, Namun, temuan ilmiah itu baru direspon 20 tahun kemudian, tepatnya pada  1992 di Rio de Janeiro.

Gagasan dan program untuk menurunkan emisi GRK secara internasional telah dilakukan sejak tahun 1979. Program itu memunculkan sebuah gagasan dalam bentuk perjanjian internasional, yaitu Konvensi Perubahan Iklim, yang diadopsi pada tanggal 14 Mei 1992 dan berlaku sejak tanggal 21 Maret 1994, Pemerintah Indonesia turut menandatangani perjanjian tersebut dan telah mengesahkannya melalui Undang-Undang Nomor 6 Tahun 1994.

Agar Konvensi tersebut dapat dilaksanakan oleh Para Pihak, dipandang penting adanya komitmen lanjutan, khususnya untuk negara pada Annex I (negara industri atau negara penghasil GRK) untuk menurunkan GRK sebagai unsur utama penyebab perubahan iklim. Namun, mengingat lemahnya komitmen Para Pihak dalam Konvensi Perubahan Iklim, Conference of the Parties (COP) III yang diselenggarakan di Kyoto pada bulan Desember tahun 1997 menghasilkan kesepakatan Protokol Kyoto yang mengatur dan mengikat Para Pihak negara industri secara hukum untuk melaksanakan upaya penurunan emisi GRK yang dapat dilakukan secara individu atau bersama-sama.

Protokol Kyoto bertujuan menjaga konsentrasi GRK di atmosfer agar berada pada tingkat yang tidak membahayakan sistem iklim bumi. Untuk mencapai tujuan itu, Protokol mengatur pelaksanaan penurunan emisi oleh negara industri sebesar 5 % di bawah tingkat emisi tahun 1990 dalam periode 2008-2012 melalui mekanisme Implementasi Bersama (Joint Implementation), Perdagangan Emisi (Emission Trading), dan Mekanisme Pembangunan Bersih (Clean Development Mechanism).

BAB  I  Fungsi Hutan dan Proteksi Pemanasan Global

Hutan belantara  telah menjadi paru-paru dunia,setiap hari hutan akan memberikan oksigen yang sangat besar bagi bumi sehingga tak heran bila kita setiap hari kita menghirup udara segar, ada beberapa hutan dari pulau lain di Indonesia ikut memberi sumbangsih yang besar dalam mengurangi dampak pemanasan global bagi bumi ini. Hutan belantara atau hijaunya daun mampu menyerap sinar matahari dan hasil proses simbiosis itu membantu mengurangi panas bumi ini,dan bilamana hutan ini ditebang habis dan suatu saat akan berubah menjadi satu padang pasir yang sangat gersang

Beberapa ahli menyebutkan dan menyimpulkan, bahwa panasnya bumi sedang menuju satu titik letusan yang disebut  Big Crunch, dimana bumi ini sedang menuju satu titik peletusan yang sangat amat dasyat. kejadian peningkatan Suhu rata-rata secara global pada permukaan Bumi diyakini telah meningkat 0.74 ± 0.18 °C (1.33 ± 0.32 °F) selama seratus tahun terakhir.

Intergovernmental Panel on Climate Change  (IPCC) menyimpulkan bahwa, “sebagian besar peningkatan suhu rata-rata global sejak pertengahan abad ke-20 kemungkinan besar disebabkan oleh meningkatnya konsentrasi    gas-gas rumah kaca akibat aktivitas manusia” melalui    efek rumah kaca, pada Kesimpulan dasar ini telah dikemukakan oleh setidaknya 30 badan ilmiah dan akademik, termasuk semua akademi sains nasional dari negara-negara    G8. Penebangan hutang secara liar (illegal logging) serta pembukaan perusahaan tambang adalah penyebab lain meningkatkan suhu bumi ini.

Proteksi secara maksimal harus dilakukan terhadap hutan harus  dilakukan dari sekarang dimana fungsi hutan tersebut  menghasilkan Karbondioksida sangat tinggi bagi bumi. Daerah seperti Sumatera,Kalimantan,Papua, dan daerah lainnya pemerintah perlu menetapkan Undang-Undang tentang bagaimana memproteksi hutan dan alam secara total dan menyeluruh. Mesti diatur bagaimana mengusir para pelaku illegal logging, perambahan hutan untuk membuka ladang untuk pertanian  yang setiap hari tanpa kontrol menebang hutan secara seenaknya. Penambangan emas dan tembaga dan jenis pertambangan lainnya yang dapat merusak ekosistem hutan tanpa memperhitungkan kondisi bumi sudah saatnya untuk ditutup. Semuanya demi kepentingan keberlanjutan hidup umat manusia.

Proteksi harus  diatur dalam satu peraturan yang dalam  pelaksanaan melibatkan semua pihak,dengan  menanam pohon pada lahan yang kosong, terlantar atau lahan kritis  merupakan upaya  melawan panasnya bumi yang peningkatannya tak dapat kita rasakan dalam satu hari

BAB  II  Energi Terbarukan

Solar Cell, Biogas, Pico hydro dan System Penerangan dengan menggunakan lampu LED merupakan implementasi dari Energi Terbarukan,setiap  killowat hour yang dihasilkan dari aplikasi energi terbarukan dapan menekan 1 kilogram Co2  (source World bank,1994). Dari gambaran tersebut maka secara teknis bahwa konsep energi terbarukan mampu untuk menekan pemanasan global, selain hutan sebagai proteksi untuk menekan pemanasan global.

Aplikasi transportasi saat ini sudah mengarah pada konsep penggunaan bahan bakar non fosil, seperti kendaraan yang menggunakan energi listrik/battery dan secara bertahap produsen-produsen kendaraan telah menghasilkan kendaraan berbasis energi listrik.

Penggunaan sumber energi terbarukan merupakan opsi untuk mengurangi emisi CO2, Cadangan energi terbarukan dinyatakan dalam GW yang merupakan kapasitas terpasang yang mampu untuk dikembangkan. cadangan energi air sebesar 75,62 GW dan panas bumi sebesar 16,10 GW, Cadangan energi terbarukan ini masih belum dimanfaatkan secara optimal dan sampai tahun 2005 pemanfaatan energi air hanya sebesar 3% dan panas bumi sebesar 2% dari potensi yang ada pada aplikasi energi terbarukan.

Untuk sisi permintaan dapat menggunakan demand side management, dan menggunakan peralatan yang lebih efisien, energi terbarukan seperti pembangkit listrik tenaga air dan panas bumi solar cell biogas mempunyai kelebihan sebagai pilihan untuk mitigasi gas rumah kaca. energi terbarukan dapat membangkitkan tenaga listrik tanpa melalui pembakaran tidak seperti pada penggunakan energi fosil. Pembangkit listrik tenaga air dapat dikatakan bebas dari emisi gas rumah kaca, sedangkan pembangkit listrik tenaga panas bumi hanya menghasilkan seperenam dari emisi gas rumah kaca yang dihasilkan dari penggunaan gas alam untuk pembangkit listrik. Studi tentang inventori dan mitigasi gas rumah kaca di Indonesia sudah banyak dilakukan. Secara garis besar mitigasi yang dapat dilakukan untuk sektor pengguna energi.

BAB III  Carbon Trade untuk Pembangunan Dan Kesejahteraan Masyarakat

Pola Carbon Trade, carbon Finance atau Carbon Trade terbilang baru terutama dalam lingkungan birokrasi dan pemerintahan, diperlukan semacam sosialisasi dan pemaparan terhadap manfaat secara ekonomi, pada saat team pelaksana Lebong Carbon Conservation Program melaksanakan sosialisasi di lingkungan Aparatur Pemerintah Kabupaten Lebong masih menemukan kendala sehubungan dengan pengetahuan terhadap carbon trade, carbon finance atau carbon credit.

Kejelasan terhadap manfaat secara ekonomi sudah sangat jelas bagi daerah, wilayah yang mampu memberikan dukungan dan upaya untuk menekan pemanasan global, seperti halnya di Kabupaten Lebong yang luas wilayahnya hampir 70 %  lebih adalah hutan, dimana di Kabupaten Lebong terdapat Taman Nasional Kerinci Seblat dan beberapa Hutan Lindung, cagar alam, potensi tersebut bisa diberdayakan dengan memanfaatkan fungsi hutan dengan cara tidak ditebang atau diambil kayunya.

Pertanyaan kerap muncul mana mungkin hutan tidak di ambil kayunya bisa menghasilkan dampak ekonomi yang pasti, suatu tantangan untuk memberikan jawaban yang logis, secara logika bahwa aturan terhadap protocol kyoto dan NOMOR 17 TAHUN 2004 TENTANG PENGESAHAN KYOTO PROTOCOL TO THE UNITED NATIONS FRAMEWORK CONVENTION ON CLIMATE CHANGE (PROTOKOL KYOTO ATAS KONVENSI KERANGKA KERJA PERSERIKATAN BANGSA-BANGSA TENTANG PERUBAHAN IKLIM), menjelaskan Kewajiban bersama antara negara industri yang termasuk pada Annex I dengan negara berkembang disesuaikan dengan prinsip tanggung jawab bersama yang dibedakan, Hal ini dijabarkan dalam Pasal 10 dan 11 Protokol Kyoto. Pasal 10 merupakan penekanan kembali kewajiban tersebut tanpa komitmen baru bagi Para Pihak, baik negara industri maupun negara berkembang seperti \ dimaksud dalam Pasal 4 ayat (1) Konvensi Perubahan Iklim. Pasal 11 menekankan kewajiban negara industri yang menjadi Pihak dalam Protokol Kyoto serta termasuk pada Annex II Konvensi untuk menyediakan dana baru dan dana tambahan, termasuk alih teknologi untuk melaksanakan komitmen Pasal 10 Protokol Kyoto.

Kekuatan Hukum tersebut yang mampu memberikan jawaban dengan pertanyaan dari mana dampak secara ekonomi apabila hutan yang ada tidak ditebang dan diambil kayunya, yaitu berupa kompensasi terhadap negera-negara industri kepada negara berkembang yang memiliki hutan dengan satu kompensasi dana, dengan catatan hutan tersebut dijaga kelestariannya.

Satuan nilai yang umum dalam nilai kompensasi tersebut berupa credit, nilai credit tersebut mengikuti kesepakatan antara penjual dan pembeli, rata-rata pasar dunia memberikan nilai credit berkisar antara $ 12 ~  $ 15 per credit, namun dalam mekanisme pihak trader atau broker memberikan nilai dibawah asumsi pasar carbon dunia, keterlibatan trader atau broker memberikan nilai dibawah pasar dunia

tidak  semata mengambil keuntungan saja, melainkan keterlibatan dalam penyusunan Project Design Dokumen (PDD) dan pengurusan administrasi, survey, jasa konsultasi  sampai terbit Certificate Emmision Reduction (CER).  Pemerintah daerah dalam penyusunan Project Design Dokumen (PDD)  sampai memperoleh Certificate Emmision Reduction (CER),merupakan satu kendala  dapat dijawab dengan melibatkan pihak trade atau broker, dari sisi pemasukan nilai akan berkurang, tetapi sisi lain pemerintah daerah juga akan diuntungankan.

Dampak Sosial dan Ekonomi yang bisa diambil dari hasil penjualan carbon, dapat dipergunakan untuk pembangunan masyarakat secara langsung, sebagai salah satu bentuk dan implementasi hasil penjualan carbon tersebut bisa diwujudkan dalam bentuk:

  1. Pemberdayaan masyarakat, dengan memberikan pengertian pentingnya hutan seperti kasus di Kabupaten Lebong beberapa masyarakat masih membuka ladang dengan cara pembakaran hutan, seperti penggunaan  dana kompensasi atau hasil penjualan karbon dipergunakan untuk memberdayakan masyarakat dalam bentuk kegiatan yang bisa menghasilkan lebih dari kegiatan sebelumnya.
  2. Kasus-kasus pencurian kayu bisa ditekan apabila pelaku pencuri kayu tersebut diberdayakan sebagai penjaga hutan, salah satu contoh juga pada tahun 2006 sampai 2008 kasus pencurian kayu di kabupaten Lebong bisa ditekan sampai 70 % , karena masyarakat yang sebelumnya melakukan tindakan pencurian kayu dilibatkan sebagai penjaga hutan, dan hal tersebut merupakan kegiatan rutin yang lebih bermanfaat.
  3. Pembangunan sistem elektrisasi secara mandiri seperti pengadaan solar cell, Pico Hydro ( Konsep Energi Terbarukan) pada daerah-daerah yang belum terpasang grid jaringan listrik, perlu diketahui bahwa visi 75/100 dari PT PLN sangat sulit dilaksanakan, 75 tahun Indonesia merdeka rasio kelistrikan harus 100 %, dan bila dikaji kondisi geografis Indonesia  kontur dan kondisi alam sangat bervariasi sehingga menyulitkan instalasi dan pemasangan jaringan grid listrik.
  4. Pembangunan pengolahan sampah dan kotoran binatang peliharaan seperti sapi untuk dijadikan Biogas, yang bisa dipergunakan untuk memasak, Konsep Biogas ini setidaknya bisa menekan penggunaan kayu bakar untuk kebutuhan memasak sehari-hari serta sebagai alternatif penggunaan bahan bakar fosil seperti minyak tanah, selain itu pengolahan pasca produksi untuk menjadi jenis pupuk organik.

Dari ke empat point tersebut  maka dampak manfaat secara langsung dari sisi ekonomi dan sosial bisa langsung bersentuhan dengan masyarakat, memang hal tersebut tidak semudah yang dibayangkan, diperlukan waktu dan proses sosialisasi secara berkesinambungan

BAB  IV Identifikasi Pasar Carbon  Pembiayaan Iklim

Indonesia tidak hanya memiliki hutan juga sebagai penghasil efek  gas rumah kaca (GHG) dalam jumlah yang signifikan, terutama dari hasil penggundulan hutan dan konversi lahan (termasuk degradasi kawasan gambut dan kebakaran sporadis). Namun, emisi bahan bakar fosil meningkat cepat dan merupakan kekhawatiran besar dalam jangka panjang.

Beberapa identifikasi dan model pasar carbon yang sudah umum ada beberapa identifikasi yang bisa dilakukan yaitu identifikasi pasar sebagai berikut :
Clean Development Mechanism (CDM):  Mendukung pengembangan lima proyek CDM (swasta) yang menghasilkan pengurangan emisi dalam pertukaran untuk pembayaran kredit karbon, satu dalam industri semen, 3 dalam limbah kota, dan satu dalam panas bumi.

REDD. Mendukung pengembangan proyek uji coba potensial melalui prakarsa konservasi hutan, termasuk Aceh Forest Environment Project (dengan dukungan MDF) dan Birdlife Forest Rehabilitation Project (diusulkan untuk dukungan GEF) – keduanya dengan kemungkinan manfaat karbon.

Pembiayaan Iklim. Mempermudah pertimbangan Indonesia mengenai peluang Pembiayaan Iklim yang diwakili oleh Climate Investment Funds dan berbagai Carbon Partnership Funds, termasuk FCPF, melalui keterlibatan dalam proses konsultasi.

Kehutanan/REDD. Membantu Departemen Kehutanan dalam mempersiapkan prakarsa Reduced Emissions from Deforestation and Degradation, dengan Aliansi Iklim Kehutanan Indonesia (LSM dan Universitas) dengan pembiayaan bersama dari DFID, AUSAID dan GTZ, untuk kabupaten Lebong mekanisme penjualan carbon akan dilaksanakan dengan menggunakan jasa trader atau broker dengan salah satu perusahaan yang berpusat di Australia dengan prinsip kerja Carbon Finance.

Indonesia pun memiliki sumber daya alternatif dan terbarukan yang signifikan, termasuk panas bumi, air, dan biomassa, sekaligus peluang substansial yang memungkinkan secara ekonomis untuk menghemat energi melalui peningkatan efisiensi. Namun, iklim investasi tetap merupakan masalah, yang menghambat pengembangan sumber daya energi alternatif sektor swasta, nilai pasar karbon global mencapai $64 miliar di tahun 2007, di mana $7 miliar terkait dengan transaksi CDM.  Nilai dari pasar karbon akan meningkat pada 2009 ini walaupun ada krisis ekonomi, survey menyatakan.  Perkiraan dari New Energy Finance, sebuah lembaga riset, percaya bahwa nilai pasar karbon global akan meningkat hingga $150 miliar pada 2009, dibandingkan  tahun lalu dan $31 miliar dan pada 2007 sekitar $64 miliar.

Survey menambahkan bahwa nilai kredit di bawah PBB yang memiliki jaminan delivery oleh penjual, meningkat menjadi $14 miliar pada 2008 dari 5 miliar pada 2007.  Perdagangan offset sekunder di bawah PBB yang juga dikenal sebagai certified emission reduction (CER) akan menjadi “sesuatu yang harus diwaspadai” pada 2009, menurut survey, dengan mencatat bahwa permintaan akan sangat mungkin untuk meningkat saat skema perdagangan emisi regional dan nasional muncul dalam beberapa tahun ke depan.

BAB V Penutup dan Kesimpulan

Dari seluruh rangkaian tulisan ini, maka dapat diambil kesimpulan bahwa potensi pasar carbon di Indonesia cukup potensial untuk dikembangkan dan diterapkan di Indonesia, terdapat beberapa identifikasi pasar carbon yang ada seperti CDM, REDD dan Pembiayaan Iklim, secara kelembagaan pasar Carbon tersebut dibawah lembaga dunia yaitu United Nations Framework Convention on Climate Change (UNFCCC).

Sangat wajar apabila pemerintah di Indonesia berperan lebih aktif dalam mendukung terhadap penekanan pemanasan global, dan menjaga kelestarian hutan secara utuh, selain itu pengembangan energi terbarukan, biogas, dan pengalihan penggunaan bahan bakar fosil ke energi non fosil segera digalakan

Kabupaten Lebong yang baru berumur 4 tahun dan salah satu dari 7 Kabupaten Konservasi membutuhkan dukungan berbagai pihak, yang saat ini sedang melaksanakan program Lebong Carbon Conservation, upaya untuk menuju kabupaten Konservasi yang peduli terhadap lingkungan dan menyumbangkan hutan untuk menekan pemanasan global segera terwujud, segala permasalahan seperti kasus pencurian kayu, pembakaran hutan, perambahan hutan dapat ditekan semaksimal mugkin, sehingga dampak positif secara ekonomi, sosial bisa terwujud, serta dapat dijadikan contoh untuk daerah lainnya

Iklan

Tinggalkan sebuah Komentar so far
Tinggalkan komentar



Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s



%d blogger menyukai ini: